Narada

 
 

10/08/2020 - 25/08/2020 | Pembinaan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker | DAFTAR SEKARANG

15/08/2020 - 16/08/2020 | Pelatihan ISO Management System – Batch 1 | DAFTAR SEKARANG

15/08/2020 - 16/08/2020 | QHSE Management System BATCH 10 | DAFTAR SEKARANG

18/08/2020 - 21/08/2020 | Pembinaan dan Sertifikasi Auditor SMK 3 – Batch 1 | DAFTAR SEKARANG

21/08/2020 - 24/08/2020 | Pembinaan dan Sertifikasi Auditor SMK 3 – Batch 2 | DAFTAR SEKARANG

22/08/2020 - 23/08/2020 | QHSE Management System BATCH 11 | DAFTAR SEKARANG

29/08/2020 - 30/08/2020 | Pelatihan ISO Management System – Batch 2 | DAFTAR SEKARANG

29/08/2020 - 30/08/2020 | QHSE Management System BATCH 12 | DAFTAR SEKARANG

31/08/2020 - 15/09/2020 | Pembinaan K3 Umum Sertifikasi Kemnaker | DAFTAR SEKARANG

05/09/2020 - 06/09/2020 | QHSE Management System BATCH 13 | DAFTAR SEKARANG

21/09/2020 - 04/10/2020 | Pembinaan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker | DAFTAR SEKARANG

Bahaya di Tempat Kerja: Iklim Kerja Panas

Potensi bahaya dalam bekerja itu bermacam-macam dan bisa timbul karena dari faktor diri sendiri dan lingkungan. Salah satu faktor yang berasal dari lingkungan adalah iklim kerja panas. Kondisi ini merupakan salah satu bahaya K3 dan dapat kita temui pada perusahaan industri di Indonesia seperti industri besi dan pengecoran logam baja, batu bata dan keramik, konstruksi, pertambangan, kaca dan gelas, tekstil, dll. 

Seperti apa, sih iklim panas itu dan apa dampaknya bagi manusia? Supaya lebih jelas, mari kita lihat pembahasannya berikut ini.

Iklim Kerja

Iklim kerja sendiri adalah suatu kombinasi dari suhu kerja, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara dan suhu radiasi pada suatu tempat kerja. Cuaca kerja yang tidak nyaman, tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan dapat menurunkan kapasitas kerja yang berakibat menurunnya efisiensi dan produktivitas kerja.

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13, iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi akibat dari tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat dari pekerjaannya (PER.13/MEN/X/2011).

Terdapat tiga sumber panas di lingkungan kerja, yaitu:

  1. Iklim kerja setempat. Keadaan udara di tempat kerja, ditentukan oleh faktor-faktor keadaan antara lain suhu udara, penerangan, kecepatan gerakan udara dan sebagainya. 
  2. Proses produksi dan mesin. Mesin mengeluarkan panas secara nyata sehingga lingkungan kerja menjadi panas.
  3. Kerja otot. Tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan memerlukan energi yang diperlukan dalam proses oksidasi untuk menghasilkan energi berupa panas.

Nilai ambang batas iklim kerja dan alat ukurnya

Menteri Tenaga Kerja RI mengeluarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per.13/Men/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, yang didalamnya mengatur NAB (Nilai Ambang Batas) untuk lingkungan fisik di tempat kerja, salah satunya adalah NAB iklim kerja dengan menggunakan ISBB (Indeks Suhu Basah dan Bola).

ISBB dapat diukur dengan menggunakan heat stress aparatures yaitu alat ukur yang dapat mengukur ISBB secara otomatis, dan dapat juga dengan menggunakan termometer manual yang terdiri dari 3 termometer yaitu termometer suhu basah, termometer suhu kering dan termometer suhu bola. Untuk termometer manual nilai ISBB didapatkan dengan menggunakan rumus berikut ini :

  • ISBB untuk di luar ruangan dengan panas radiasi :

ISBB = 0,7 Suhu basah alami + 0,2 Suhu bola + 0,1 Suhu kering.

  • ISBB untuk di dalam atau di luar ruangan tanpa panas radiasi :

ISBB = 0,7 Suhu basah alami + 0,3 Suhu bola.

Dalam penerapannya di lapangan, pengukuran indeks suhu basah dan bola dilaksanakan bersamaan dengan perhitungan beban kerja yang di dibandingkan pada pembatasan waktu kerja sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri di atas.

Nilai ambang batas untuk  iklim kerja dikelompokkan ke dalam tiga kelompok beban kerja yaitu :

  1. Beban kerja ringan membutuhkan kalori sampai dengan 200 Kilo kalori/jam.
  2. Beban kerja sedang membutuhkan kalori lebih dari 200 sampai dengan kurang dari 350 Kilo kalori/jam.
  3. Beban kerja berat membutuhkan kalori lebih dari 350 sampai dengan kurang dari 500 Kilo kalori/jam.

Dampak iklim kerja bagi pekerja dan lingkungan :

Terdapat enam pengaruh iklim kerja yang tidak sesuai terhadap tenaga kerja, yaitu sebagai berikut:

  1. Gangguan perilaku dan performa kerja, seperti terjadinya kelelahan, sering melakukan istirahat curian dan lain-lain. 
  2. Dehidrasi, yaitu suatu kondisi kehilangan cairan tubuh yang berlebihan yang disebabkan baik oleh penggantian cairan yang tidak cukup maupun karena gangguan kesehatan).
  3. Heat rash, seperti biang keringat atau keringat buntat, gatal kulit akibat kondisi kulit terus basah.
  4. Heat cramps, merupakan kejang-kejang otot tubuh (tangan dan kaki) akibat keluarnya keringat yang menyebabkan hilangnya garam natrium dari tubuh yang kemungkinan besar disebabkan karena minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium. 
  5. Heat syncope, keadaan yang disebabkan karena aliran darah ke otak tidak cukup karena sebagian besar aliran darah di bawah ke permukaan kulit atau perifer yang disebabkan pemaparan suhu tinggi.  
  6. Heat exhaustion, keadaan yang terjadi apabila tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan atau kehingan garam, dengan gejalanya: mulut kering, sangat haus, lemah, dan sangat lelah.
Upaya mengendalikan Iklim Panas ditempat kerja

Pengendalian Teknik 
  1. Merupakan usaha yang paling efektif untuk mengurangi pajanan lingkungan panas yang berlebihan, dengan cara :
  2. Mengurangi produksi panas metabolik dalam tubuh.
  3. Otomatisasi dan mekanisasi beban tugas akan meminimalisasi kebutuhan kerja fisik para tenaga kerja.
  4. Mengurangi penyebaran panas radiasi dari permukaan benda-benda yang panas, dengan cara memberikan Isolasi/penyekat dan perisai.
  5. Mengurangi bertambahnya panas konveksi. Kipas angin untuk meningkatkan kecepatan gerak udara di ruang kerja yang panas.
  6. Mengurangi kelembaban. AC, peralatan penarik kelembaban, dan upaya lain untuk mengeliminasi uap panas sehingga dapat mengurangi kelembapan di lingkungan kerja.
Pengendalian Administratif
  1. Periode aklimatisasi yang cukup sebelum melaksanakan beban kerja yang penuh. 
  2. Untuk mempersingkat pajanan dibutuhkan jadwal istirahat yang pendek tetapi sering dan rotasi tenaga kerja yang memadai. 
  3. Ruangan dengan penyejuk udara (AC) perlu disediakan untuk memberikan efek pendinginan pada para tenaga kerja waktu istirahat. 
  4. Penyediaan air minum yang cukup


Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD)

Secara spesifik, untuk iklim kerja panas tidak memiliki APD. Namun untuk mengurangi efeknya terhadap tubuh pekerja disarankan kepada pekerja untuk menggunakan pakaian kerja yang tipis atau terbuat dari katun dengan tujuan agar dapat mengurangi penguapan dan keringat mudah meresap.

Iklim kerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses kerja yang dilakukan oleh pekerja. Pengaturan iklim kerja sangat penting dilakukan agar tercipta kondisi tempat kerja yang nyaman dan sesuai, sehingga pekerja dapat bekerja dengan optimal serta tidak mengalami gangguan kesehatan dan menerima resiko kecelakaan kerja.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Kami siap membantu anda